Ketika seorang pemimpin gereja sibuk mengamankan gelar, ruang VIP, atau undangan pejabat, ia sedang meninggalkan teladan Kristus. Legitimasi seperti itu adalah ilusi karena di hadapan Allah, "apa yang dikagumi manusia adalah kekejian" (Lukas 16:15).
Jabatan gerejawi adalah amanat atau peran khusus yang diberikan oleh gereja (atau Allah melalui gereja) kepada seseorang untuk melakukan tugas pelayanan, kepemimpinan, dan penggembalaan dalam komunitas orang percaya. Jabatan ini bukan sekadar gelar kehormatan, melainkan panggilan untuk melayani (diakonia) berdasarkan pengakuan atas karunia dan kapasitas rohani seseorang.
Dalam tradisi Kristen (Protestan, Katolik, Ortodoks), jabatan gerejawi memiliki beberapa karakteristik:
1. Berasal dari otoritas gereja – biasanya melalui penahbisan, pengukuhan, atau pemilihan oleh jemaat/sinode.
2. Bertujuan untuk ketertiban dan pertumbuhan iman – seperti mengajar, menggembalakan, sakramen, serta pembinaan rohani.
3. Memiliki tanggung jawab etis yang lebih tinggi – Alkitab menekankan bahwa pemimpin gereja akan dihakimi lebih berat (Yakobus 3:1).
Contoh jabatan gerejawi:
· Pendeta/Pastor – penggembala dan pemberi firman.
· Penatua – kepemimpinan rohani dan pengawasan jemaat (dalam gereja presbiterian/sinode).
· Diaken – pelayanan diakonia (kasih, sosial, dan bantuan praktis).
· Uskup (dalam episkopal) – pengawasan beberapa jemaat dalam satu wilayah.
· Majelis Jemaat / Komisi – struktur kolektif yang mengelola administrasi dan keputusan strategis.
Secara teologis, jabatan gerejawi adalah karunia Kristus kepada gereja untuk membangun tubuh-Nya (Efesus 4:11-13), bukan hak istimewa pribadi. Oleh karena itu, refleksi sebelumnya mempertanyakan kapan jabatan ini disalahgunakan menjadi alat mencari legitimasi sosial—ketika pemimpin lebih sibuk mengejar status dan pengakuan dunia daripada kesetiaan pada panggilan melayani.
Dalam perjalanan sejarah gereja, jabatan gerejawi (seperti pendeta, uskup, ketua sinode, atau majelis jemaat) memiliki dua fungsi utama: pertama, sebagai sarana pelayanan (diakonia) berdasarkan karunia Roh; kedua, sebagai struktur kepemimpinan untuk ketertiban dan penggembalaan. Namun, problem teologis muncul ketika jabatan ini bergeser dari panggilan pelayanan menjadi komoditas untuk meraih legitimasi sosial—yaitu pengakuan, status, dan kuasa dalam struktur masyarakat.
Refleksi teologis sosial berikut ini menggunakan kacamata etika Kristen dan kritik nabi, terutama bersandar pada Yesus Kristus sebagai sang "hamba" dan para nabi Israel yang melawan kooptasi kekuasaan religius demi kepentingan elite.
1. Legitimasi Sosial: Godaan Konstatinian
Secara sosiologis, legitimasi sosial adalah pengakuan publik bahwa seseorang atau kelompok memiliki hak moral dan otoritas untuk dihormati dan diikuti. Dalam konteks jabatan gerejawi, legitimasi ini bisa diperoleh melalui pendidikan tinggi, gelar teologis, jaringan kekuasaan, atau kedekatan dengan penguasa sipil. Masalah muncul ketika para pemimpin gereja menggunakan jabatan mereka bukan untuk membebaskan yang tertindas, melainkan untuk mendapatkan kehormatan, akses ekonomi, dan pengaruh politik.
Teolog sosial John Howard Yoder menyebut godaan ini sebagai "godaan Konstantinian"—yaitu ketika gereja bersekutu dengan pusat kekuasaan dunia sehingga kehilangan identitasnya sebagai komunitas alternatif yang setia pada Kristus yang disalibkan. Jabatan yang seharusnya menjadi teladan kerendahan hati (Filipi 2:5-8) justru menjadi tiket menuju kursi kehormatan di pesta-pesta publik (Matius 23:6-7).
2. Kritik Nabi: Mengosongkan Diri vs. Memuaskan Ambisi
Refleksi biblis yang paling keras datang dari Yesus sendiri. Ia melarang murid-murid-Nya disebut "Rabbi" atau "Bapa" dengan sikap otoriter (Matius 23:8-12), dan membedakan secara tajam antara "pemimpin bangsa-bangsa yang memerintah dengan kuasa" versus "siapa yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu" (Markus 10:42-44).
Secara teologis, inkarnasi Kristus adalah kenosis (pengosongan diri). Paulus menjelaskan bahwa Yesus, yang setara dengan Allah, tidak menganggap kesetaraan itu sebagai sesuatu yang harus dipertahankan untuk legitimasi, melainkan mengosongkan diri-Nya, mengambil rupa seorang hamba (Filipi 2:6-7). Maka, model legitimasi sosial yang alkitabiah justru legitimasi dari bawah—pengakuan dari mereka yang terpinggirkan, bukan dari mereka yang berkuasa.
3. Dampak Sosial: Gereja yang Kehilangan Garam dan Terang
Secara sosial, jika jabatan gerejawi digunakan sebagai legitimasi sosial, maka:
· Gereja kehilangan suara kenabian. Pemimpin yang terikat pada elite politik dan ekonomi akan sulit mengkritik ketidakadilan, korupsi, atau penindasan.
· Pelayanan menjadi eksklusif. Jabatan diperebutkan sebagai status, bukan sebagai beban salib. Akibatnya, kaum miskin, marjinal, dan "orang biasa" tidak lagi merasa rumah di gereja.
· Etika kerja pelayanan tergantikan oleh etika penampilan. Ukuran keberhasilan bukan lagi kesetiaan pada Injil, melainkan berapa banyak konferensi yang dihadiri, berapa banyak foto bersama pejabat, atau berapa besar donatur kaya yang mendukung.
Teolog sosial Latin Amerika, Leonardo Boff, mengingatkan bahwa jabatan gerejawi yang sah secara kanonik belum tentu sah secara Injili jika tidak berpihak pada kaum miskin. Legitimasi sejati dari Allah diberikan kepada mereka yang "memberikan roti kepada yang lapar" dan "membebaskan yang terbelenggu" (Lukas 4:18-19).
4. Menuju Legitimasi Alternatif: Kesaksian dan Pelayanan
Lalu, bagaimana seharusnya seorang pemimpin gereja mendapatkan legitimasi yang benar? Bukan dengan mengejar pengakuan sosial, melainkan dengan hidup dalam integritas dan pelayanan yang nyata. Legitimasi seorang pemimpin Kristen tidak diukur dari seberapa sering namanya disebut di media, melainkan dari:
· Kesaksian hidup yang jujur di tengah budaya korupsi.
· Keberanian membela yang lemah meskipun tidak populer.
· Kerelaan kehilangan reputasi demi kebenaran.
· Tangan yang terbuka untuk melayani bukan untuk dikuasai.
Inilah yang disebut Dietrich Bonhoeffer sebagai "Yesus datang sebagai pribadi bagi orang lain." Legitimasi sejati dari Allah diberikan secara paradoksal: "Barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan" (Matius 23:12). Legitimasi itu mungkin tidak diakui dunia, tetapi itulah satu-satunya legitimasi yang bertahan di hadapan takhta Allah.
Pelayanan gerejawi tidak terjadi dalam ruang hampa. Ia berlangsung di tengah perubahan zaman, tekanan sosial, dan kelemahan manusia. Setidaknya ada lima tantangan utama yang dihadapi para pemimpin gereja dewasa ini, yang jika tidak direspons dengan bijak, dapat mengaburkan panggilan sejati mereka.
Godaan Pragmatisme dan Sukses Numerik
Banyak gereja kini terjebak pada ukuran keberhasilan duniawi: jumlah jemaat yang membengkak, bangunan megah, anggaran besar, dan pengaruh sosial. Akibatnya, pelayanan gerejawi direduksi menjadi manajemen pertumbuhan alih-alih pembentukan murid sejati. Khotbah disesuaikan agar "menyenangkan telinga", sakramen dijalankan formalitas, dan konseling rohani dikalahkan oleh program-program instan. Tantangannya: bagaimana tetap setia pada Injil meskipun tidak populer dan tidak menghasilkan angka spektakuler?
Politisasi dan Kooptasi Kekuasaan
Tantangan klasik yang sudah diungkit dalam refleksi sebelumnya: jabatan gerejawi sering menjadi batu loncatan untuk kekuasaan politik atau ekonomi. Para pemimpin gereja diundang ke istana, diberi proyek, atau dijadikan juru kampanye. Imbalannya, gereja kehilangan suara kenabiannya. Saat korupsi atau ketidakadilan merajalela, para pemimpin ini diam karena takut kehilangan akses dan legitimasi sosial mereka. Tantangannya: berani berkata tidak pada tawaran kuasa yang membelenggu Injil, dan tetap berpihak pada kaum lemah meskipun harus kehilangan kedudukan.
Individualisme dan Konsumerisme Jemaat
Jemaat masa kini hidup dalam budaya yang mengagungkan "hak pribadi", kenyamanan, dan kepuasan instan. Banyak orang datang ke gereja bukan untuk menyembah atau melayani, melainkan untuk "dilayani" sesuai selera mereka. Jika tidak puas, mereka pindah ke gereja lain seperti pindah toko. Tantangan bagi pelayan gerejawi: bagaimana menggembalakan jiwa-jiwa yang terbiasa menjadi konsumen, bukan murid? Bagaimana mengajarkan pengorbanan, komitmen, dan kesetiaan dalam budaya yang anti-komitmen?
Krisis Kaderisasi dan Kepemimpinan Berkelanjutan
Banyak gereja mengalami kesulitan mencari penerus yang berkualitas. Sebabnya: jabatan gerejawi dipandang kurang menarik secara ekonomi dan sosial (terutama di kalangan muda), atau sebaliknya, dijadikan ajang perebutan prestise sehingga konflik internal melemahkan regenerasi. Akibatnya, gereja dipegang oleh pemimpin yang sudah tua dan kelelahan, atau oleh orang-orang yang tidak kompeten namun pintar bermain politik internal. Tantangannya: menciptakan sistem kaderisasi yang sehat berdasarkan karunia dan kerendahan hati, bukan nepotisme atau ambisi.
Sekularisasi dan Kehilangan Makna Pelayanan
Tekanan dunia modern membuat pelayanan gerejawi sering direduksi menjadi profesi atau pekerjaan sosial biasa. Pendeta dianggap seperti CEO, konsultan, atau pekerja LSM. Doa, puasa, dan kehidupan rohani dipinggirkan oleh rapat, laporan, dan penggalangan dana. Lambat laun, pelayanan kehilangan "garam" dan "terang"-nya. Tantangannya: menjaga api rohani tetap menyala di tengah kesibukan administratif, dan mengingatkan diri sendiri bahwa pelayanan gerejawi pertama-tama adalah panggilan ilahi, bukan profesi.
Pelayanan Gerejawi vs. Mencari Status Sosial
Aspek Pelayanan Gerejawi Sejati Mencari Status Sosial
Motivasi Mengasihi Allah dan sesama, memuliakan Tuhan Mendapatkan pengakuan, hormat, dan kekuasaan dari manusia
Sumber Otoritas Karunia Roh dan panggilan ilahi Gelar, jabatan, jaringan elite, popularitas
Model Kristus Kenosis: mengosongkan diri, menjadi hamba (Filipi 2:7) Eksaltasi diri: ingin ditinggikan, dihormati
Relasi dengan Jemaat Menggembalakan, membasuh kaki, melayani yang lemah Memerintah, dijauhi, atau didekati hanya untuk kepentingan
Ukuran Keberhasilan Kesetiaan pada Injil dan transformasi hidup jemaat Berapa banyak undangan, seberapa besar pengaruh politik/ekonomi
Resiko Kelelahan, tidak populer, ditolak Kesombongan, kompromi doktrin, kehilangan suara kenabian
Tanda-tanda Bahaya (Red Flags) Bahwa Jabatan Dipakai untuk Status Sosial
1. Lebih sibuk menghadiri acara seremonial (pelantikan, peletakan batu pertama, resepsi pejabat) daripada mengunjungi jemaat yang sakit atau miskin.
2. Gelar teologis disebut di setiap kesempatan bahkan dalam konteks yang tidak perlu, sebagai senjata untuk mengintimidasi lawan diskusi.
3. Membangun jaringan eksklusif hanya dengan orang kaya, pejabat, atau tokoh terkenal, sementara jemaat biasa diabaikan.
4. Foto bersama pejabat atau tokoh publik lebih sering diunggah daripada dokumentasi pelayanan nyata di pinggiran kota.
5. Sensitif terhadap protokol dan penghormatan (marah jika tidak dipanggil "Pdt.", "Uskup", atau tidak mendapat tempat duduk VIP).
6. Menggunakan jabatan untuk mengamankan proyek, dana, atau posisi politik bagi diri sendiri atau keluarganya.
Ujian Lakmus (Litmus Test) Menurut Alkitab
Yesus memberikan ujian yang sangat sederhana namun keras:
"Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untukmu. Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (Matius 20:26-28)
Ujiannya:
· Apakah Anda bersedia melakukan tugas yang paling rendah dan tidak terhormat tanpa perlu diakui?
· Apakah Anda bisa menerima jika orang tidak tahu nama atau jabatan Anda?
· Apakah Anda tetap setia melayani ketika tidak ada yang melihat, memuji, atau memberi imbalan?
Kisah Peringatan: Para Farisi
Yesus dengan tajam mengkritik para pemimpin agama yang mencari status sosial melalui jabatan keagamaan:
"Mereka suka tempat terhormat dalam perjamuan dan kursi terdepan di rumah ibadat, dan suka menerima penghormatan di pasar dan dipanggil Rabi." (Matius 23:6-7)
Yesus menyebut mereka "orang munafik" karena di luar kelihatan saleh, tetapi di dalam hati mencari kemuliaan diri sendiri. Jabatan yang seharusnya menjadi saran pelayanan justru menjadi panggung sandiwara.
Jawaban Pastoral: Bagaimana Keluar dari Jerat Status Sosial?
Jika Anda merasakan ada pergumulan ini dalam diri (jujur saja, hampir semua pemimpin pernah tergoda), langkah-langkah berikut dapat membantu:
1. Bertobat secara pribadi – akui kepada Allah bahwa hasrat akan status seringkali lebih kuat daripada hasrat melayani. Doakan Mazmur 139:23-24.
2. Cari akuntabilitas – miliki sahabat rohani yang berani menegur jika Anda mulai menunjukkan gejala "pencari status".
3. Lakukan pelayanan "tidak terlihat" secara rutin – misalnya mencuci piring di acara gereja, membersihkan toilet, atau mengunjungi pasien kusta/HIV tanpa kamera.
4. Tolak tawaran yang membahayakan integritas – berani mengatakan "tidak" pada undangan atau proyek yang jelas-jelas hanya ingin memanfaatkan jabatan Anda untuk legitimasi sosial.
5. Ingat kematian – suatu hari semua gelar, kehormatan, dan jabatan akan lenyap. Yang tersisa hanyalah: "Apakah engkau setia pada-Ku?"
Pertanyaan yang Harus Ditanyakan Setiap Hari
Sebelum tidur, setiap pemimpin gereja perlu bertanya pada dirinya:
"Hari ini, apakah aku melayani Tuhan dan umat-Nya, atau sedang membangun menara Babel statusku sendiri?"
Jawaban yang jujur bisa menyakitkan, tetapi justru di situlah anugerah Allah bekerja untuk memulihkan panggilan sejati kita: menjadi hamba, bukan tuan; menjadi pelayan, bukan selebriti.
Tantangan-tantangan di atas tidak bisa dijawab dengan strategi manusiawi semata. Solusi sejati adalah pertobatan terus-menerus para pemimpin gereja kepada Kristus yang disalibkan. Hanya dengan berdiri di kaki salib—tempat semua ambisi duniawi hancur dan semua legitimasi palsu lenyap—seorang pelayan gereja dapat melayani dengan murni, setia, dan berani.
Sebagaimana kata Dietrich Bonhoeffer: "Ketika Kristus memanggil seseorang, Ia memanggilnya untuk datang dan mati." Pelayanan gerejawi adalah panggilan untuk mati terhadap legitimasi sosial, ambisi pribadi, dan takut akan manusia. Di situlah gereja menemukan kembali kekuatannya.
Biarlah jabatan gerejawi sekali lagi menjadi diakonia, bukan dominasi; menjadi pelayanan, bukan panggung; menjadi salib, bukan singgasana. Di situlah gereja menemukan legitimasinya yang sejati: sebagai saksi Kerajaan Allah di tengah dunia.
Salam MPH
Salam Perubahan