![]() |
| Dokpri MPH: Dosen Swasta dan politisi Muda NTT, Giat Menulis dan sapa senyum |
Antara Harapan dan Kenyataan di Ruang Kelas: Saat Dosen Menanti Suara, Mahasiswa Justru Membisu
Dosen memasuki ruang kelas dengan secarik harapan: bahwa pertanyaan yang dilontarkan akan memantik lautan diskusi, bahwa mahasiswa akan bergantian menyuarakan analisis kritis, bahwa ruang belajar akan berdenyut hidup oleh gagasan-gagasan yang bertukar.
Namun kenyataan berkata lain. Yang ada adalah keheningan yang canggung. Mahasiswa menunduk, sibuk dengan gawai, atau sekadar menatap kosong ke papan tulis. Pertanyaan yang menggantung di udara jatuh tak berjawab. Harapan yang semula membumbung, perlahan terempas oleh sunyi.
Kesenjangan ini tak melulu soal malas atau tak peduli. Bisa jadi mahasiswa terjebak dalam budaya takut salah. Atau sistem pembelajaran sebelumnya tak membiasakan mereka untuk kritis dan berani bersuara. Bisa pula karena pertanyaan dosen terlalu abstrak, atau ranah nyaman diam lebih aman dari risiko ditertawakan.
Galau, dan keresahan saya menjadi Fenomena "minim literasi, enggan diskusi" di kalangan mahasiswa bukan sekadar keluhan nostalgik generasi senior, melainkan sebuah pergeseran epistemologis yang dipicu oleh perubahan struktur konsumsi informasi. Informasi (Information Overload) Mahasiswa saat ini hidup dalam era di mana informasi tersedia secara instan. Namun, menurut Nicholas Carr dalam bukunya The Shallows, paparan terus-menerus terhadap informasi digital yang pendek dan cepat (skimming) sebenarnya sedang melatih otak untuk tidak fokus.
Kemampuan deep reading (membaca mendalam) menurun. Mahasiswa lebih terbiasa membaca judul atau ringkasan (abstrak) daripada membedah argumen utuh dalam satu buku.
Maryanne Wolf (2018) dalam Reader, Come Home menjelaskan bahwa otak digital kita cenderung memilih efisiensi daripada pemahaman kritis. Hal ini menjelaskan mengapa mahasiswa merasa "lelah" sebelum sempat menyelesaikan satu bab referensi.
Media sosial menciptakan ekosistem di mana jawaban harus instan. Algoritma filter bubble (gelembung filter) membuat mahasiswa hanya terpapar pada opini yang mereka sukai.
Diskusi menuntut kesiapan untuk berbeda pendapat dan memproses ketidaknyamanan intelektual. Ketika algoritma memanjakan kita dengan pemikiran yang seragam, perbedaan pendapat dalam diskusi nyata sering dianggap sebagai serangan personal, bukan dialektika.
Komodifikasi Pendidikan (Pragmatisme Akademik)
Ada pergeseran orientasi mahasiswa dari scholar (pencari ilmu) menjadi customer (pelanggan). Pendidikan tinggi sering kali hanya dipandang sebagai jembatan menuju dunia kerja (instrumen ekonomi).
Jika sebuah bacaan tidak keluar dalam ujian atau tidak relevan dengan sertifikasi keahlian, mahasiswa cenderung mengabaikannya. Diskusi yang sifatnya filosofis atau teoretis dianggap "membuang waktu" karena tidak memiliki nilai transaksional langsung.
Paulo Freire dalam Pedagogy of the Oppressed menyebut ini sebagai "Bank-concept of education," di mana mahasiswa hanya menjadi wadah kosong yang menerima setoran data, tanpa keinginan untuk memproduksi pemikiran kritis melalui diskusi.
Fear of Missing Out" (FOMO) vs "Fear of Being Wrong"
Di era cancel culture, ada ketakutan sosial yang nyata bagi mahasiswa untuk menyatakan pendapat di ruang publik.
Diskusi memerlukan keberanian untuk salah. Namun, di dunia yang serba terdokumentasi secara digital, kesalahan logika dalam diskusi bisa menjadi bumerang sosial. Akibatnya, mahasiswa memilih untuk diam (apatis) daripada mengambil risiko intelektual.
Ini refleksi yang jujur dan relevan. Fenomena “minim literasi, enggan diskusi” pada mahasiswa sekarang memang nyata dan punya akar yang kompleks. Sebagai bahan refleksi, mari bedah mengapa ini terjadi dan dampaknya:
1. Literasi minim = fondasi goyang
Mahasiswa yang jarang membaca (buku, jurnal, esai panjang) akan kesulitan memahami konsep utuh. Akibatnya:
· Argumen di diskusi dangkal, hanya mengulang opini umum.
· Cenderung pasif karena takut salah atau ketinggalan informasi.
2. Enggan diskusi bukan karena bodoh, tapi karena budaya
Bisa jadi karena:
· Kebiasaan sekolah: Selama 12 tahun lebih diajar mendengar, bukan bertanya.
· Fear of judgment: Media sosial mengajarkan bahwa “salah” itu memalukan (like-bully culture).
· Instant answer: Dengan ChatGPT, merasa cukup tahu tanpa perlu bertukar pikiran.
3. Butuh transformasi peran mahasiswa
Dari penonton jadi pemain. Caranya:
· Micro-habit baca: 10 menit/hari buku nonfiksi lalu tulis 1 paragraf ringkasan.
· Diskusi soal kecil dulu: Mulai dari grup kecil, bukan kelas besar.
· Literasi digital kritis: Beda membaca postingan dan membaca wacana.
4. Titik kritis: kehilangan rasa penasaran (curiosity)
Mahasiswa jaman now lebih terlatih mencari jawaban cepat daripada pertanyaan dalam. Padahal diskusi justru lahir dari pertanyaan, bukan jawaban.
Kesimpulan refleksi:
Ini bukan sekadar masalah malas baca, tapi perubahan ekosistem belajar. Jika tidak diatasi, yang hilang bukan hanya nilai, tapi kemampuan berpikir asosiatif, toleransi terhadap ambiguitas, dan kolaborasi intelektual.
Apakah saya lebih sering mencari validasi atas pendapat saya, atau benar-benar ingin memahami sudut pandang lain?
Literasi dan diskusi adalah dua sisi koin yang sama: keberanian untuk tidak tahu dan terus belajar.
Jadi, jika mahasiswa jaman now ingin keluar dari lingkaran "minim baca & malas diskusi", cukup mulai dari satu sisi dulu. Misalnya:
· Baca 5 menit → catat 1 pertanyaan → tanyakan ke teman. Dari situ, sisi diskusi mulai bergerak. Lama-lama kedua sisi berputar sendiri.
Refleksi Bagi Dosen:
Apakah lingkungan aman untuk mencoba gagasan sudah terbangun? Apakah mahasiswa merasa didengar, bukan dihakimi? Mungkin perlu mengubah pertanyaan terbuka yang terlalu besar menjadi pertanyaan kecil yang dekat dengan pengalaman mereka, atau memberi waktu pikir sebelum meminta jawaban.
Refleksi Bagi Mahasiswa:
Apakah diam adalah bentuk resistensi, ketakutan, atau ketiadaan perspektif? Jika semua diam, lalu siapakah yang akan belajar. Ruang diskusi adalah laboratorium keberanian intelektual. Tak harus selalu benar, yang penting proses berpikirnya hidup.
Harapan dan kenyataan tak harus berlawanan, bila keduanya bertemu dalam kesadaran.
Yakni kesadaran bahwa diskusi tak lahir dari tuntutan, melainkan dari rasa percaya. Dan kepercayaan itu harus dibangun bersama. Diam mahasiswa bukan akhir, tapi isyarat untuk dosen memulai cara baru. Dan harapan dosen bukan beban, tapi undangan bagi mahasiswa untuk akhirnya bersuara.
WEP2
